Sumber : http://pascasarjana-halimi.blogspot.com/2014/12/penelitian-studi-kasus-desain-metode.html
Diunduh : 24
February 2015
Penulis : Halimi Travel
Penyusun : Wahyu
Richo Rusdika
Judul : data
yang diteliti dari tipe-tipenya
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sebuah penelitian untuk mengetahui langkah
apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh seorang peneliti untuk menuntaskan
penelitiannya, maka seorang peniliti harus tau menggunakan pendekatan apa yang
pas dengan jenis penelitiannya tersebut. Studi kasus adalah merupakan salah
satu strategi dalam sebuahpenelitian kualitatif. Menurut John W. Creswell:
Studi kasus merupakan strategi penelitian dimana
di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa,
aktivitas, proses, atau sekelompok individu.Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan
aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan
menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah
ditentukan.[1][1]
Dalam makalah ini penulis
akan membahas tentang Penelitian Studi Kasus (Desain dan Metode).Adapun batasan
dalam makalah ini agar lebih terarah, pemakalah menjelaskan tentang pengertian
studi kasus, jenis-jenis studi kasus, langkah-langkah penelitian studi kasus,
pengertian desain dan metode.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Studi Kasus
Studi kasus adalah merupakan salah satu jenis
strategi dalam penelitianqualitative.[2][2]Donald Ary mengatakan dalam bukunya “Introduction
to Research in Education Eight Edition” bahwa a case study is a
qualitative examination of single individual, group, event, or institution.[3][3]Menurut John W. Creswell:
Studi kasus merupakan strategi penelitian di
mana di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa,
aktivitas, proses, atau sekelompok individu.Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan
aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan
menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah
ditentukan.[4][4]
Lisa M. Given dalam bukunya “The Sage Encyclopedia of Qualitative
Research Methods“ mengungkapkan bahwa “A case study is a research
approach in which one or a few instances of a phenomenon are studied in depth.”[5][5]Penelitian kasus atau studi kasus adalah suatu
penelitian yang dilakukan secara intensif terinci dan mendalam terhadap suatu
organisasi, lembaga atau gejala tertentu.Ditinjau dari wilayahnya, maka
penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subyek yang sangat sempit.Tetapi
ditinjau dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih mendalam.[6][6]
Studi kasus pada intinya adalah meneliti kehidupan satu atau beberapa
komunitas, organisasi atau perorangan yang dijadikan unit analisis, dengan
menggunakan pendekatan kualitatif.[7][7]
Contoh penelitian studi kasus :
Disuatu kelas terdapat seorang siswa yang sangat menonjol, lain Dari yang
lain. Jika diajar tidak pernah tenang, sifatnya keras suka membantah.Sikapnya
berang.Tetapi prestasinya luas biasa baik.Siswa seperti ini pantas dijadikan
“kasus”, artinya dijadikan subjek dalam penelitian kasus.
Didalam penelitian tersebut siswa diselidiki apa sebab mempunyai tingkah
laku demikian. Apa latar belakangnya, bagaimana sejarahnya dan seterusnya.
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap satu sekolah misalnya
penelitian tentang pelaksanaan UKS disekolah tersebut dapat juga dipandang
sebagai penelitian kasus.Kesimpulan penelitian kasus tersebut hanya berlaku
bagi sekolah yang diteliti.
Contoh lain: peneliti ingin mengetahui penggunaan buku paket disalah satu
SMP di daerah istimewa Yogyakarta. Dengan bermacam-macam pertimbangan akhirnya
peneliti menentukan SMP XXX sebagai tempat penelitiannya.Setelah data terkumpul
dan diolah maka peneliti memperoleh kesimpulan mengenai bagaimana SMP XXX
menggunakan paket.Kesimpulan tersebut hanya berlaku bagi SMP XXX itu saja.[8][8]
B. Jenis-Jenis Studi Kasus
1. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian
organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni
perkembangan organisasinya. Studi ini sering kurang memungkinkan untuk
diselenggarakan, karena sumbernya kurang mencukupi untuk dikerjakan secara
minimal.
2. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalui
observasi peran-serta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus
studinya pada suatu organisasi tertentu. Bagian-bagian organisasi yang menjadi
fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b)
satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
3. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu orang dengan
maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas.
Wawancara sejarah hidup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup
seseorang, dan lahir hingga sekarang, masa remaja, sekolah, topik persahabatan
dan topik tertentu lainnya.
4. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan
(community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau
masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu
bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
5. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis
situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya
pengeluaran siswa paa sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut
pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya,
orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
6. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit
organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau
suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang
belajar menggambar.
C. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus
1. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara
bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh
peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan
masyarakat atau unit sosial.Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah
masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumber-sumber
yang tersedia.
2. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalam pengumpulan data,
tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara,
dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan
cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat
mengumpulkan data yang berbeda secara serentak.
3. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi,
mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola.
Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum
guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis,
kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi.Analisis data dilakukan sejak peneliti
di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau
setelah selesai dan lapangan.
4. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam
pendekatan studi kasus hendaknya dilakukan penyempurnaan atau penguatan (reinforcement)
data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru
mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat
kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah
ada.
5. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, mudah
dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas,
sehingga memudahkan pembaca untuk memahami seluruh informasi penting. Laporan
diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang
atau kelompok.
D. Desain dan Metode
1. Pengertian Desain
Desain penelitian adalah kerangka kerja yang digunakan untuk melaksanakan
penelitian.Pola desain penelitian dalam setiap disiplin ilmu memiliki kekhasan
masing-masing, namun prinsip-prinsip umumnya memiliki banyak kesamaan.Desain
penelitian memberikan gambaran tentang prosedur untuk mendapatkan informasi
atau data yang diperlukan untuk menjawab seluruh pertanyaan penelitian.[9][9]
Oleh karena itu, sebuah desain penelitian yang baik akan menghasilkan
sebuah proses penelelitian yang efektif dan efisien. Klasifikasi desain
penelitian dibagi menjadi dua, yaitu (1) desain penelitian eksploratif dan (2)
konklusif. Desain penelitian konklusif dibagi lagi menjadi dua tipe, yaitu (1)
dekriptif dan (2) kausal. Penelitian eksploratif bertujuan untuk menyelidiki
suatu masalah atau situasi untuk mendaptkan pengetahuan dan pemahaman yang baik
dan mendalam tentang masalah atau situasi yang dijadikan objek penelitian.
Sedangkan penelitian deskriptif bertujuan untuk menggmbarkan sesuatu.
Penelitian deskriptif memiliki pernyataan yang jelas mengenai masalah yang
akan diteliti, hipotesis yang spesifik, dan informasi detail yang dibutuhkan.
Desain penelitian harus mampu menggambarkan semua proses yang diperlukan
dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian, yang membantu peneliti dalam
pengumpulan dan menganalisis data. Penelitian adalah suatu proses mencari
sesuatu secara sistematik dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode
ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku untuk dapat menghasilkan suatu
penelitian yang baik.
Oleh karena itu, untuk dapat menghasilkan penelitian yang baik, maka
dibutuhkan desain penelitian yag benar-benar dapat mengarahkan peneliti dalam
setiap tahap penelitiannya.Secara singkat, desain penelitian dapat
didefinisikan sebagai rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk
memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Dalam pengertian yang lebih luas, desain penelitian mencakup proses-proses
berikut:
a. Identifikasi dan pemilihan masalah
penelitian.
b.Pemilihan kerangka konseptual;
c. Memformulasikan masalah penelitian dan membuat
hipotesis;
d.
Membangun penyelidikan atau
percobaan;
e. Memilih serta mendefinisikan pengukuran
variabel-variabel;
f. Memilih prosedur dan teknik sampling yang
digunakan
g.Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan
data
h.Membuat coding, serta mengadakan editing dan
processing data;
i. Menganalisa data dan pemilihan prosedur
statistik;
Desain penelitian menentukan ranah kemungkinan generalisasi apakah
interpretasi yang dicapai dapat digeneralisasikan terhadap suatu populasi yang
lebih besar atau kondisi-kondisi yang berbeda.(Nachmias dan Nachmias, 1976, hlm
77-78 dalam Yin, 1987).Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pokok desain
penelitian adalah membantu peneliti menghindari data yang tak mengarah ke
pertanyaan-pertanyaan awal penelitian. Dalam metode studi kasus, terdapat lima
komponen desain penelitian yang substansial, yaitu:
1.
Pertanyaan-pertanyaan
penelitian (study’s questions)
2.
Proposisi, jika ada
3.
Unit-unit analisis
4.
Logika yang mengaitkan data
dengan proposisi yang ada
5.
Kriteria untuk
menginterpretasikan hasil temuan
Sedangkan, kriteria penetapan kualitas desain
penelitian menurut uji logika tertentu, antara lain:
1.
Validitas KonstrukMenetapkan
ukuran operasional yang benar untuk konsep-konsep yang akan diteliti.
2.
Validitas Internal (hanya
untuk penelitian dengan metode explanatory dan causal)Menetapkan
hubungan kausal, di mana kondisi-kondisi tertentu ditunjukkan guna mengarahkan
kondisi-kondisi lain, sebagaimana dibedakan dengan hubungan semu.
3.
Validitas Eksternal
Menetapkan ranah di mana temuan suatu penelitian dapat divisualisasikan.
4.
Reliabilitas
Menunjukkan bahwa pelaksanaan sebuah penelitian seperti prosedur
pengumpulan data dapat diinterpretasikan dengan hasil yang sama.
2.
Pengertian Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan
yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah
cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.[11][11]
Dalam penelitian kualitatif terdapat berbagai metode penelitian yang
digunakan peneliti untuk memudahkan dan mencapai hasil penelitian secara
efektif dan tepat sasaran. Tiap-tiap metode memiliki kelebihan dan
kekurangannya sendiri, terutama terkait tentang cara untuk mengumpulkan dan
menganalisa bukti-bukti empiris.
Studi kasus adalah sebuah metode penelitian di mana pertanyaan “how”
(bagaimana) dan “why” (mengapa) diajukan dalam sebuah penelitian, saat peneliti
memiliki sedikit kontrol atas sebuah kejadian dan berfokus pada fenomena
kontemporer yang memiliki konteks dengan kehidupan nyata dari individu,
kelompok, komunitas, maupun organisasional. Studi kasus terbagi lagi menjadi
metode-metode yang lebih spesifik, seperti: Pertama, descriptive, yaitu
merupakan metode penelitian studi kasus yang fokus pada penguraian kasus yang
sedang diteliti. Kedua, exploratory, yaitu penyelidikan secara mendalam
misalnya peneliti yang terlibat langsung dengan obyek yang sedang diteliti.Ketiga,
explanatory, yaitu peneliti memberikan keterangan-keterangan yang rinci dan
penjelasan terhadap kasus yang diteliti.Apapun tipenya, peneliti harus fokus
pada aspek penyusunan dan penyelenggaraannya agar mampu menghadapi
kritik-kritik tradisional terhadap metode yang dipilih.
Studi kasus merupakan sebuah eksplorasi dari sistem pembatasan sebuah kasus
(atau multiple kasus) secara terperinci , pengumpulan data secara mendalam baik
melalui berbagai sumber informasi. Sebagai salah satu strategi penelitian,
studi kasus merupakan bagian dari keraguan dari semua usaha penelitian
ilmu-ilmu sosial, namun studi kasus selalu menggunakan dan melihat berbagai
situasi guna menambah pengetahuan mengenai individu, kelompok, organisasi,
sosial, politik, dan fenomena terkait.Tidak mengejutkan sehingga studi kasus
menjadi salah satu metode penelitian rujukan bagi fenomena sosial yang
kompleks, seperti ilmu-ilmu psikologi, sosiologi, politik, bisnis, dan
perencanaan komunitas. Studi kasus mengesahkan peneliti untuk memakai dan menguasai
karakter-karakter penting dari suatu kehidupan nyata, misalnya siklus kehidupan
individu, organisasi, proses manajerial, perubahan lingkungan, hubungan
internasional, dan proses pertumbuhan industri.
Studi kasus menjadi metode paling sesuai untuk fase penyelidikan dari
sebuah penelitian karena mengedepankan survey dan proses historis sebagai jalan
untuk penjelasan yang bersifat sebab musabab (kausalitas). Meskipun demikian,
metode studi kasus hanya merupakan persiapan metode penelitian dan tidak dapat
digunakan untuk menggambarkan atau menguji suatu masalah.
Beberapa tantangan dalam penggunaan studi kasus sebagai sebuah metode,
antara lain:
1. Peneliti harus mengidentifikasi kasus yang akan diteliti dan melakukan
sistem pembatasan, mengenali beberapa opsi yang mungkin untuk dijadikan pilihan
dan memahami kasus atau isu yang layak untuk diteliti.
2. Peneliti harus mempertimbangkan untuk mempelajari satu atau banyak
kasus. Motivasi peneliti untuk mempertimbangkan banyak kasus adalah ide dari
generalisasi sebagai substansi dari penelitian kualitatif.
3. Memiliki cukup informasi untuk mempresentasikan gambaran dari kasus yang
membatasi nilai-nilai dari beberapa studi kasus. Dalam perencanaan studi kasus,
harus terjadi pembangunan acuan pengumpulan data dimana informasi-informasi
dispesifikasikan menjadi data-data yang benar-benar dibutuhkan dalam melakukan
penelitian.
4. Memutuskan pembatasan dari sebuah kasus, termasuk pembatasan dalam hal
waktu, kejadian, dan proses karena beberapa studi kasus cenderung tidak
memiliki poin permulaan dan akhir yang jelas.
BAB III
SIMPULAN
Studi kasus merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti
menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau
sekelompok individu.Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti
mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur
pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan.
Desain penelitian adalah
kerangka kerja yang digunakan untuk melaksanakan penelitian.Pola desain
penelitian dalam setiap disiplin ilmu memiliki kekhasan masing-masing, namun
prinsip-prinsip umumnya memiliki banyak kesamaan.Desain penelitian memberikan
gambaran tentang prosedur untuk mendapatkan informasi atau data yang diperlukan
untuk menjawab seluruh pertanyaan penelitian.
Metode berasal dari Bahasa
Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan
dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat
memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode
berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar