Sumber : http://faisyalrufen.blogspot.com/2013/10/data-dan-jenis-jenisnya.html
Diunduh : 24
February 2015
Penulis : Faisyal Ichsal
Penyusun : Wahyu
Richo Rusdika
Judul : jenis data dan dari modul sumbernya
DATA DAN
JENIS-JENISNYA
PENGUMPULAN
DATA
Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti untuk kepentingan memecahkan masalah atau
menjawab perta- nyaan penelitian. Data penelitian dapat berasal dari berbagai
sumber yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik selama
kegiatan pene- litian berlangsung.
*
JENIS - JENIS DATA
A.
Data Berdasarkan Sumbernya
Berdasarkan
sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu data
primer dan data sekunder.
1.
Data primer adalah
data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber
datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang
memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti
harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data primer antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus
grup discussion – FGD) dan penyebaran kuesioner.
2.
Data Sekunder adalah
data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah
ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari
berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan
lain-lain.
Pemahaman
terhadap kedua jenis data di atas diperlukan sebagai landasan dalam menentukan
teknik serta langkah-langkah pengumpulan data penelitian.
B.
Data Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan
bentuk dan sifatnya, data penelitian dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data
kualitatif (yang berbentuk kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (yang
berbentuk angka). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan cara
mendapatkannya yaitu data diskrit dan data kontinum. Berdasarkan sifatnya, data
kuantitatif terdiri atas data nominal, data ordinal, data interval dan data
rasio.
1.
Data Kualitatif
Data
kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data
kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya
wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah
dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif
adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
2.
Data Kuantitatif
Data
kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan
bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik
perhitungan matematika atau statistika. Berdasarkan proses atau cara untuk
mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu
sebagai berikut:
1.
Data diskrit adalah
data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh
data diskrit misalnya:
1)
Jumlah Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan XXX sebanyak 20.
2)
Jumlah siswa laki-laki di SD YYY sebanyak 67 orang.
3)
Jumlah penduduk di Kabupaten ZZZ sebanyak 246.867 orang.
Karena
diperoleh dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan bulat
(bukan bilangan pecahan).
1.
Data kontinum adalah
data dalam bentuk angka/bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran.
Data kontinum dapat berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis
skala pengukuran yang digunakan. Contoh data kontinum misalnya:
1)
Tinggi badan Budi adalah 150,5 centimeter.
2)
IQ Budi adalah 120.
3)
Suhu udara di ruang kelas 24o Celcius.
Berdasarkan
tipe skala pengukuran yang digunakan, data kuantitatif dapat dikelompokan dalam
empat jenis (tingkatan) yang memiliki sifat berbeda yaitu:
1.
Data nominal atau
sering disebut juga data kategori yaitu data yang diperoleh melalui
pengelompokkan obyek berdasarkan kategori tertentu. Perbedaan kategori
obyek hanya menunjukan perbedaan kualitatif. Walaupun data nominal dapat
dinyatakan dalam bentuk angka, namun angka tersebut tidak memiliki urutan atau
makna matematis sehingga tidak dapat dibandingkan. Logika perbandingan “>”
dan “<” tidak dapat digunakan untuk menganalisis data nominal. Operasi
matematika seperti penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), atau
pembagian (:) juga tidak dapat diterapkan dalam analisis data nominal. Contoh
data nominal antara lain:
Jenis
kelamin yang terdiri dari dua kategori yaitu:
(1)
Laki-laki
(2)
Perempuan
Angka
(1) untuk laki-laki dan angka (2) untuk perempuan hanya merupakan simbol yang
digunakan untuk membedakan dua kategori jenis kelamin. Angka-angka tersebut
tidak memiliki makna kuantitatif, artinya angka (2) pada data di atas tidak
berarti lebih besar dari angka (1), karena laki-laki tidak memiliki makna lebih
besar dari perempuan. Terhadap kedua data (angka) tersebut tidak dapat
dilakukan operasi matematika (+, -, x, : ). Misalnya (1) = laki-laki, (2) =
perempuan, maka (1) + (2) ≠ (3), karena tidak ada kategori (3) yang merupakan
hasil penjumlahan (1) dan (2).
Status
pernikahan yang terdiri dari tiga kategori yaitu: (1) Belum menikah, (2)
Menikah, (3) Janda/ Duda. Data tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan
data tentang jenis kelamin.
1.
Data ordinal adalah
data yang berasal dari suatu objek atau kategori yang telah disusun secara
berjenjang menurut besarnya. Setiap data ordinal memiliki tingkatan tertentu
yang dapat diurutkan mulai dari yang terendah sampai tertinggi atau sebaliknya.
Namun demikian, jarak atau rentang antar jenjang yang tidak harus sama.
Dibandingkan dengan data nominal, data ordinal memiliki sifat berbeda dalam hal
urutan. Terhadap data ordinal berlaku perbandingan dengan menggunakan fungsi
pembeda yaitu “>” dan “<”. Walaupun data ordinal dapat disusun
dalam suatu urutan, namun belum dapat dilakukan operasi matematika ( +, – , x ,
: ). Contoh jenis data ordinal antara lain:
Tingkat
pendidikan yang disusun dalam urutan sebagai berikut:
(1)
Taman Kanak-kanak (TK)
(2)
Sekolah Dasar (SD)
(3)
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
(4)
Sekolah Menengah Atas (SMA)
(5)
Diploma
(6)
Sarjana
Analisis
terhadap urutan data di atas menunjukkan bahwa SD memiliki tingkatan lebih
tinggi dibandingkan dengan TK dan lebih rendah dibandingkan dengan SMP. Namun
demikian, data tersebut tidak dapat dijumlahkan, misalnya SD (2) + SMP (3) ≠
(5) Diploma. Dalam hal ini, operasi matematika ( + , – , x, : ) tidak
berlaku untuk data ordinal.
Peringkat
(ranking) siswa dalam satu kelas yang menunjukkan urutan prestasi belajar
tertinggi sampai terendah. Siswa pada peringkat (1) memiliki prestasi belajar
lebih tinggi dari pada siswa peringkat (2).
1.
Data Interval adalah
data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta
menunjukan semua sifat yang dimiliki oleh data ordinal. Kelebihan sifat data
interval dibandingkan dengan data ordinal adalah memiliki sifat kesamaan jarak
(equality interval) atau memiliki rentang yang sama antara data yang
telah diurutkan. Karena kesamaan jarak tersebut, terhadap data interval dapat
dilakukan operasi matematika penjumlahan dan pengurangan ( +, – ). Namun
demikian masih terdapat satu sifat yang belum dimiliki yaitu tidak adanya angka
Nol mutlak pada data interval. Berikut dikemukakan tiga contoh data interval,
antara lain:
1)
Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan termometer yang dinyatakan
dalam ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00 Celcius
sampai 10 Celcius memiliki jarak yang sama dengan 10 Celcius
sampai 20 Celcius. Oleh karena itu berlaku operasi
matematik ( +, – ), misalnya 150 Celcius + 150 Celcius
= 300 Celcius. Namun demikian tidak dapat dinyatakan bahwa
benda yang bersuhu 150 Celcius memiliki ukuran panas separuhnya
dari benda yang bersuhu 300 Celcius. Demikian juga, tidak dapat
dikatakan bahwa benda dengan suhu 00 Celcius tidak memiliki
suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif
(tidak mutlak). Artinya, jika diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit
diperoleh 00 Celcius = 320 Fahrenheit.
2)
Kecerdasaran intelektual yang dinyatakan dalam IQ. Rentang IQ 100
sampai 110 memiliki jarak yang sama dengan 110 sampai 120. Namun
demikian tidak dapat dinyatakan orang yang memiliki IQ 150 tingkat
kecerdasannya 1,5 kali dari urang yang memiliki IQ 100.
3)
Didasari oleh asumsi yang kuat, skor tes prestasi belajar (misalnya IPK
mahasiswa dan hasil ujian siswa) dapat dikatakan sebagai data interval.
4)
Dalam banyak kegiatan penelitian, data skor yang diperoleh melalui
kuesioner (misalnya skala sikap atau intensitas perilaku) sering dinyatakan
sebagai data interval setelah alternatif jawabannya diberi skor yang ekuivalen
(setara) dengan skala interval, misalnya:
Skor
(5) untuk jawaban “Sangat Setuju”
Skor
(4) untuk jawaban “Setuju”
Skor
(3) untuk jawaban “Tidak Punya Pendapat”
Skor
(2) untuk jawaban “Tidak Setuju”
Skor
(1) untuk jawaban “Sangat Tidak Setuju”
Dalam
pengolahannya, skor jawaban kuesioner diasumsikan memiliki sifat-sifat yang
sama dengan data interval.
1.
Data rasio adalah
data yang menghimpun semua sifat yang dimiliki oleh data nominal, data ordinal,
serta data interval. Data rasio adalah data yang berbentuk angka dalam arti
yang sesungguhnya karena dilengkapi dengan titik Nol absolut (mutlak) sehingga
dapat diterapkannya semua bentuk operasi matematik ( + , – , x, : ).
Sifat-sifat yang membedakan antara data rasio dengan jenis data lainnya
(nominal, ordinal, dan interval) dapat dilihat dengan memperhatikan contoh
berikut:
1)
Panjang suatu benda yang dinyatakan dalam ukuran meter adalah data rasio. Benda
yang panjangnya 1 meter berbeda secara nyata dengan benda yang panjangnya 2
meter sehingga dapat dibuat kategori benda yang berukuran 1 meter dan 2 meter
(sifat data nominal). Ukuran panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang
terpanjang sampai yang terpendek (sifat data ordinal). Perbedaan antara benda
yang panjangnya 1 meter dengan 2 meter memiliki jarak yang sama dengan
perbedaan antara benda yang panjangnya 2 meter dengan 3 (sifat data interval).
Kelebihan sifat yang dimiliki data rasio ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1)
Angka 0 meter menunjukkan nilai mutlak yang artinya tidak ada benda yang
diukur; serta (2) Benda yang panjangnya 2 meter, 2 kali lebih panjang dibandingkan
dengan benda yang panjangnya 1 meter yang menunjukkan berlakunya semua operasi
matematik. Kedua hal tersebut tidak berlaku untuk jenis data nominal, data
ordinal, ataupun data interval.
2)
Data hasil pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram memiliki
semua sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya 1 kg. berbeda
secara nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran berat benda dapat
diurutkan mulai dari yang terberat sampai yang terringan. Perbedaan antara
benda yang beratnya 1 kg. dengan 2 kg memiliki rentang berat yang sama dengan
perbedaan antara benda yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan
tidak ada benda (berat) yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg., 2 kali lebih
berat dibandingkan dengan benda yang beratnya 1 kg..
Pemahaman
peneliti terhadap jenis-jenis data penelitian tersebut di atas bermanfaat untuk
menentukan teknik analisis data yang akan digunakan. Terdapat sejumlah teknik
analisis data yang harus dipilih oleh peneliti berdasarkan jenis datanya.
Teknik analisis data kualitatif akan berbeda dengan teknik analisis data
kuantitatif. Karena memiliki sifat yang berbeda, maka teknik analisis data
nominal akan berbeda dengan teknik analisis data ordinal, data interval, dan
data rasio.
*
METODE PENGUMPULAN DATA
Untuk mengumpulkan data dari sampel penelitian, dilakukan dengan metode
tertentu sesuai dengan tujuannya. Ada berbagai metode, antara lain; wawancara,
observasi (pengamatan), wawancara, kuesioner atau angket dan dokumenter.
Metode yang dipilih untuk setiap variabel tergantung pada berbagai faktor
terutama jenis data dan ciri responden. Untuk data historis misalnya tidak bisa
ditemukan dengan observasi tetapi dimungkinkan dengan dokumenter atau
wawancara. Hal ini tergantung pada karakteristik data variabel, maka metode
yang digunakan tidak selalu sama untuk setiap variabel. Berikut ini adalah
metode pengumpulan data suatu penelitian.
OBSERVASI
Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data/fakta
yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem. Observasi adalah pengamatan
langsung para pembuat keputusan berikut lingkungan fisiknya dan atau pengamatan
langsung suatu kegiatan yang sedang berjalan.
Kelebihan
:
· Derajat
kepercayaan tinggi
· Konteks
sosial yang diamati belum dipengaruhi faktor lain (natural)
· Tidak
terbatas hanya pada manusia
· Dapat
menggunakan alat bantu
Kelemahan
:
· Memerlukan
waktu yang lama
· Kurang
efektif mengamati gejala pada individu seperti sikap, motivasi, pandangan dan
sebagainya
· Tidak
dapat mengamati gejala yang peka / rahasia
· Tidak
dapat mengamati gejala masa lampau.
WAWANCARA
Menurut pengertiannya wawancara adalah Tekhnik pengumpulan data atau informasi
dari “informan” dan atau “Responden” yang sudah di tetapkan, di lakukandengan
cara ”Tanya jawab sepihak tetapi sistematis” atas dasar tujuan penelitian
yanghendak di capai.
Menurut
beberapa ahli, wawancara juga di definiusikan sebagai berikut :
Wawancara
merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakankomunikasi
dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog ( Tanyajawab )
secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung ( I. Djumhur dan
Muh.Surya,1985 ).
Wawancara
adalah salah satu metode untuk mendapatkan data anak atau orang
tua dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan/face to face
relation
( Bimo Walgito, 1987 ).
Wawancara
adalah alat untuk memperoleh data atau fakta atau informasi dari seorang murid
secara lisan ( Dewa Ktut Sukardi, 1983 ).
Wawancarainfor
m atif adalah suatu alat untuk memperoleh fakta/data informasi dari murid
secara lisan . Dengan tujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk bimbingan (
WS. Winkel, 1995 ).
Tujuan
wawancara.
Ada
berbagai tujuan yang dapat dicapai dalam wawancara yaitu :
1. Menciptakan
hubungan baik diantara dua pihak yang terlibat ( subyek wawancara dan
pewawancara ). Pertemuan itu harus bebas dari segala kecemasan dan ketakutan
sehingga memungkinkan subyek wawancara menyatakan sikap dan perasaan dengan
bebas, tanpa mekanisme pertahanan diri yang kadang-kadang menghambat
pernyataannya.
2.
Meredakan ketegangan yang terdapat dalam subyek wawancara. Oleh karena subyek
wawancara pada umumnya membawa berbagai ketegangan emosi ke dalam pertemuan
dalam wawancara itu, maka kedua belah pihak harus berusaha meredakan ketegangan
di dalam dirinya.
3.
Menyediakan informasi yang dibutuhkan. Dalam wawancara kedua belah pihak akan
mendapat kesempatan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkannya.
4.
Mendorong kearah pemahaman diri pada pihak subyek wawancara. Hampir semua
subyek wawancara menginginkan pemahaman diri yang lebih baik, dan pada dasarnya
memiliki kesanggupan dan bakat yang seringkali tidak dapat berkembangdengan
sempurna . Dengan wawancara subyek wawancara akan lebih memahami dirinya.
5.
Mendorong ke arah penyusunan kegiatan yangkons tr uktif pada subyek wawancara
Keuntungan
dengan wawancara
a. Hubungan secara personal, akan memperoleh data secara langsung, cepat dan
konomis.
b. Problem akan langsung mengenai sasaran, penegasan maksud pertanyaan dapat
langsung diutarakan.
c. Metode ini bersifat fleksibel, mudah menyesuaikan dengan keadaan untuk
diarahkan pada relevansi informasi.
Kelemahan dengan wawancara
a. Jangkauan responden relatif kecil dan memakan waktu lebih lama dari pada angket.
b. Biayanya lebih mahal
c. Dibutuhkan lebih banyak tenaga pewawancara.
KUISIONER
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau
hal-hal yang diketahui”. Suharsimi Arikunto (1999:140
Kuesioner dipakai untuk menyebutkan metode maupun
instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrumen yang
dipakai adalah angket atau kuesioner.
Kelebihan
kuesioner sebagai berikut:
· Tidak
memerlukan hadirnya peneliti.
· Dapat
dibagikan secara serentak kepada responden.
· Dapat
dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing menurut waktu
senggang responden.
· Dapat
dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu menjawab.
· Dapat dibuat berstandar sehingga
semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama.
Kelemahan
kuesioner adalah sebagai berikut:
· Responden
sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak
terjawab, padahal sukar diulangi diberikan kembali padanya.
· Seringkali
sukar dicari validitasnya
· Walaupun
dibuat anonim, kadang-kadang responden sengaja memberikan jawaban yang tidak
betul atau tidak jujur
· Angket
yang dikirim lewat pos pengembaliannya sangat rendah, hanya sekitar 20%.
Seringkali tidak dikembalikan tertutama jika dikirim lewat pos menurut
penelitian
· Waktu
pengembaliannya tidak sama-sama, bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama
sehingga terlambat
*
VARIABEL
Variabel adalah suatu besaran yang dapat diubah atau berubah sehingga
mempengaruhi peristiwa atau hasil penelitian. Dengan menggunakan variabel, kita
akan mmeperoleh lebih mudah memahami permasalahan. Hal ini dikarenakan kita
seolah-olah seudah mendapatkan jawabannya. Biasanya bentuk soal yang
menggunakan teknik ini adalah soal counting (menghitung) atau menentuakan suatu
bilangan. Dalam penelitian sains, variable adalah bagian penting yang tidak
bisa dihilangkan.
*
Macam – Macam Variabel
|
a.
|
Variabel
Independent.
|
Variable
independent atau variabel bebas, atau peubah bebas sering juga
disebut dengan variabel stimulus, atau predictor, atau variabel antecedent.
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, variabel independent disebut juga
sebagai peubah bebas. Peubah bebas ini adalah merupakan peubah yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab terjadinya perubahan terhadap peubah tak
bebas. Atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi peubah tak bebas
(variabel dependent).
|
|
b
|
Variabel
Dependent.
|
Variabel
dependent, dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai peubah tak bebas,
variabel output, criteria, atau konsekuen. Variabel ini sering disebut
sebagai peubah tak bebas, atau variabel terikat. Variable terikat atau
peubah tak bebas ini merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat, karena adanya variabel sebab atau peubah bebas.
|
|
c.
|
Variabel
Moderator.
|
Variabel
moderator adalah peubah yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah)
hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent. Variabel ini
sering disebut juga sebagai peubah bebas kedua.
|
|
d.
|
Variabel
Intervening.
|
Variabel
intervening adalah peubah yang secara teoritis mempengaruhi (memperlemah dan
memperkuat) hubungan antara variabel independent (peubah bebas) dengan
variabel dependent (peubah terikat), akan tetapi tidak dapat diamati dan
diukur secara matematis.
|
|
e.
|
Variabel
Kontrol.
|
Variabel
kontrol adalah peubah yang dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga pengaruh variabel independent (peubah bebas) terhadap variabel
dependent (peubah tak bebas) tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang
tidak diamati. Variabel kontrol ini sering digunakan dalam penelitian
komparatif, yang bersifat melakukan perbandingan
|